Hallo kawan-kawan, aku ingin membagikan pengalaman ku ketika menuju ke salah satu pesantren adikku yang berada di Aceh, cerita ini lumayan mmeberikan inspirasi, semoga semuanya terhibur yaa. semoga bisa bermanfaat.
Ayat-ayat yang jarang tertartil kan itu mulai berdengung
lagi
“Al-Quran” itu revolusi 2020 ku. 2018, adalah
tahun dimana aku sering menghamburkan waktuku pada menjelajahi satu website ke
website lainnya, aku sering apply beasiswa, semua negara ku submit
application form nya. Tapi, syukurnya aku, semua program yang aku submitted,
terjawab dengan rejected. lalu aku memikirkan untuk hijrah pada
Allah, memeluknya melalui firmanNya. focusku pada Al-Quran, di tahun
2020 situs beasiswa sudah tak lagi kutikung, website-website itu sudah lama tak
kujenguk “Barang siapa yang mengejar bayangan, maka ia tak akan mampu
mendapatkan bayangan tsb. Tapi jika ia terus berjalan, maka bayangan akan
mengikutinya” adalah kata-kata yang amat dalam akan tafsirannya. Aku mulai
sadar, selama ini aku selalu mengejar bayangan yang entah tak tahu kapan akan
kuraih.
Ayat-ayat yang jarang tertartil kan itu
mulai terdengar lagi. Sore hari, Aku dan ayah berkunjung ke salah satu dayah
yang berada di pinggiran kota Banda Aceh, Al-Misk namanya, Sebutan dayah
itu biasa dikenal dengan pondok, atau umumnya dikenal dengan pesantren. Al-Misk
adalah sebuah dayah yang dibimbingi oleh Ust Farhan Abu Furaihan, seorang
tokoh di Aceh. Beliau memiliki keintelektualan agama yang faqih dan
cerdas dalam mengajak ummat menuju sirathol mustaqiim.
Aku dan ayah pergi ke dayah untuk menjenguk
adikku, ia berlari kecil menghampiri kami yang sudah berdiri digerbang putih
khas al-misk. Pintu gerbang al-misk pun terbuka, tampaklah akhwat dengan
jubah dan cadar hitam dengan berbagai macam modelnya. Mereka melewatiku seraya
menyipitkan matanya, sebagai petanda “memberi senyuman dan hormat”. Aku suka travelling
di dayah ini, selain karena jaraknya dekat dan juga hatiku selalu damai
setelah melihat mereka.
Dalam pertemuan singkat itu, kami saling belajar,
ia mengajariku cara mentartil al-qur’an, ikhfa, idgham, izhar dll. Ia adalah
adikku tapi sekaligus guru privatku “bukankah ilmu tidak memandang umur dan
usia” “selama ilmu itu shohih, gigitlah dengan gigi geraham” itu mottoku.
Keharmonisan terjadi saat ia mengajariku ikhfa, aku masih saja tidak
konsisten pada harkat ikhfa. Kadang-kadang aku membaca nya 1 harkat, kadang-kadang
kelebihan harkatnya. Pertemuan 1 jam itu benar-benar manis. Dari dayah ini, aku
mendapatkan banyak momentum, salah satunya adalah bagaimana santri
disini menjaga setiap Sunnah yang mereka pelajari, hingga menghafal tiap-tiap
ayat Al-Qur’an dan mereka sangatlah beradab dan berakhlak mulia. Bukankah
sebaik-baik perhiasan adalah perempuan sholihah / mar’atussholihah?
Pukul menunjukkan jam 6 sore, sudah saatnya
gerbang asrama ditutup, aku mengantar adikku sampai ke gerbang, mencium dan
memeluknya seraya berkata “Bismillah, belajar yang rajin, gigitlah
dengan gigi geraham. Ikatlah ilmumu dengan pena”. Kami berpamitan, di kedalaman
dayah itu, kudengar bisingan lebah, mereka lagi-lagi sedang menghafal
Al-Qur;an, rebut seperti ributnya kepakan sayap-sayap lebah. Disisi lain, kulihat
santri-santri dengan jubah hitam berjalan bersama-sama sambil menggandeng
Al-Qur’an, mata sipit mereka lagi-lagi menandakan bahwa mereka sedang tertawa
kecil-kecil an.
Indah sekali Sunnah itu, mereka menerapkannya
dengan gigi geraham mereka. Tak ada kata lelah dalam menghafal Al-Qur’an, tidur
jam 11 malam, bangun jam 3 pagi untuk tahajud, lalu majlis ta’lim sampai
matahari terbit. Masyallah, beginilah islam yang murni, orientasi nya mutlak
pada akhirat, tak ada terbesit dalam hati mereka ingin mengejar dunia, mereka memakai
fasilitas dunia hanya seperlunya saja. Bukankah begitu pula yang diajarkan
rasulullah pada kita semua?
Dengungan Bisingan Lebah
Reviewed by Cut Manda Sari
on
Februari 17, 2020
Rating:
Reviewed by Cut Manda Sari
on
Februari 17, 2020
Rating:


Tidak ada komentar: